“Sibuk”

0
16

Dalam deretan kisah hidup seseorang, akan begitu banyak lembaran di sana. Menorehkan bait demi bait cerita di dunianya masing-masing.

Tentang cerita itu, tidak terlepas dari apa aktivitas kita di dalamnya. Segala cerita akan lebih menarik jika kita mengisinya dengan sesuatu yang menarik pula.

Tentang menarik atau tidaknya, itu relatif. Tapi yang perlu dipertanyakan adalah seberapa guna cerita itu untuk kehidupan kita? Bagaimana kita berperan dalam cerita itu, adakah hasil dari setiap rutinitas kita di dalamnya?
Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Sibuk
Well, “Semakin sibuk, maka semakin baik.” Begitu kata sebagian orang.
Semakin sibuk bekerja, akan semakin banyak menghasilkan uang. Semakin sibuk mengurusi fisik, maka akan semakin mempesona. Dan lain sebagainya.

Memberikan nilai tersendiri untuk hidup, tentu kita akan memilih kesibukan yang juga punya nilai.

Allah yang menciptakan manusia, juga telah menciptakan berbagai bentuk kesibukan untuknya. Manusia tinggal memilih jenis kesibukan apa yang akan mengisi lembaran kisahnya di dunia ini?

Kita tentu tak asing dengan hadits berikut:
“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya).

Sangat elegan sabda itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang telah mendapatkan tarbiyah langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala seolah sudah sangat paham dengan kondisi hari ini. Banyak dari umatnya yang hanya bergelut dengan kesibukan dunia tanpa melihat sisi manfaatnya.

Berapa banyak dari kita yang merasa kesibukan dunia lebih penting dari kesibukan akhirat? Menganggap sibuknya lebih penting daripada segalanya, bahkan panggilan adzan pun kalah oleh musik favoritnya. Majelis ilmu kalah dengan majelis ghibah.

Ilmu bisnisnya lebih banyak daripada ilmu sholatnya. Al Qur’an yang hanya dijadikan hiasan di sudut-sudut rumah. Kumpulan anak muda yang waktunya hanya sekedar nongki (nongkring sambil mengopi) dan bercanda ria.

Apakah hanya itu tujuan hidup kita?
Agama ini sangat menganjurkan kita untuk mengisi waktu dengan berbuat. Lebih tepatnya adalah berbuat dengan sesuatu yang dapat membawa manfaat, bukan sesuatu yang sia-sia belaka.

Dunia vs Akhirat
Negeri abadi itu bernama akhirat, dan saat ini kita sedang dalam perjalanan menuju ke sana.
Adakah bekal yang cukup untuk menemani perjalanan kita?

Dunia ini hanyalah sebuah perjalanan yang akan berakhir ketika waktunya tiba. Saat itu semuanya akan bungkam. Waktu itu akan mengakhiri semua cerita yang telah ada. Lantas mengapa kepentingan akhirat jauh terlupakan, menolehpun enggan, hanya karena kesibukan dunia yang tiada titiknya?

Apakah kita lebih sibuk daripada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dengan kesibukannya sebagai seorang pemimpin, tetapi tak sedikitpun melupakan kewajibannya sebagai seorang hamba? Beliau merasa kerdil di hadapan Rabbnya, sadar akan tujuan penciptaannya. Yah, sibuk tak membuatnya lupa siapa dirinya.

Mungkin kita perlu sedikit merenungi ayat ini. Tersebut dalam firman-Nya QS. Qashas ayat 77: “Carilah negeri akhirat pada nikmat yang diberikan oleh Allah padamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6:37)

Menggunakan dunia untuk akhirat, singkatnya begitu. Kita tidak ditekankan hanya untuk beribadah dan terus beribadah tanpa mengambil sedikit bagian dari dunia. Tapi hanya bagian, bukan setengah apalagi semuanya.

Kita harus paham dengan hakikat penting bahwa kita diciptakan untuk beribadah (QS. Adz-Zariyat: 56). Maka, pantas bagi kita untuk memprioritaskan tujuan itu dibanding yang lainnya. Untuk apa? Apalagi kalau bukan untuk bekal perjalanan menuju negeri abadi?
Imam Al-Qurthubi juga mengatakan, “Hendaklah seorang menggunakan nikmat dunia yang Allah berikan untuk menggapai kehidupan akhirat, yaitu: surga. Sebab, seorang mukmin harus memanfaatkan kehidupan dunianya untuk hal yang bermanfaat untuk kehidupan akhiratnya.”

Sungguh, perjalanan ini begitu singkat, tapi ia menyuguhkan begitu banyak uji dan coba di setiap lika-likunya. Ujian nafsu kadang membuat kita lupa, lalai, hingga durjana.

Sementara, tiada satupun insan yang tahu kapan perjalanan hidupnya akan berujung. Jangan sampai waktu itu benar-benar tiba dan kita masih terpaku dengan kesenangan fana yang menipu.

Creativewriting

Muslimahmenulis


Kunjungi kami:
📡muslimah.wahdahbombana.or.id
🌎Fp: Muslimah Wahdah Bombana
📸 Ig: Muslimah Wahdah Bombana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here