“Terminal Rindu”

0
29

Terasa asing mendengar nama itu, nama terminal yang entah keberadaannya ada di mana?

Tapi bukan, ini bukan nama terminal alat transportasi roda 2 atau roda 4.

Ia adalah terminal yang dari sanalah para mujahid/mujahidah berangkat untuk menempuh sebuah perjalanan yang sepi dari riak tawa, bergelombang tak beraspal, yang ujungnya tak tahu entah di mana.

 Dakwah

Perjalanan dakwah bukanlah suatu perjalanan yang ramai dilalui oleh semua manusia. Hanya segelintir manusia yang rela berada di sana.

Bagaimana tidak, dakwah tak menjanjikan harta yang berlimpah, bukan pula kedudukan yang tinggi.

Dalam dakwah hanya berisi orang-orang pilihan yang mau berjuang untuk agama Allah.

Pada jalan ini, ada orang yang harus kelelahan bahkan sampai mengusap air mata yang tumpah akibat perihnya luka yang ia dapati dalam perjalanan.

Saat itu, langkah kaki menjadi berat untuk melanjutkan perjalanan. Ada yang ingin kembali ke belakang, ada juga yang masih tetap berjalan meski dengan merangkak kesakitan demi sebuah rasa yang tak dimengerti oleh semua orang.

Entahlah, dengan segala suka dukanya, ada nikmat tersendiri ketika membersamai jalan ini.

 Kerinduan Sang Mujahid

Jalan ini, jalannya para syuhada. Maka bersyukurlah jika hari ini kita berada di jalan yang sama dengan mereka.

Para sahabat menempuh perjalanan ini dengan semangat dan kerinduan yang mendalam akan pertemuan yang indah dengan Rabbnya.

Begitupun dengan Julaibib radhiallahu ‘anhu, seorang pemuda Anshar yang begitu merindukan syahid di jalan Allah.

Julaibib bukan dari kalangan terpandang, perawakannya kurang bagus, juga tidak memiliki harta. Namun, dia sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam kisahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin menikahkannya dengan seorang wanita sholehah. Tanpa berpikir panjang, sang wanita langsung menerima pinangan tersebut.

Saat itu, Julaibib begitu bahagia mendengar bahwa pinangannya diterima. Sebentar lagi wanita sholehah akan menjadi pendamping hidupnya. Kehidupan baru akan segera ia jalani.

Namun, angan-angan itupun pupus tatkala panggilan jihad memanggil jiwa sang mujahid karena di waktu yang bersamaan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berjihad di jalan Allah.

Julaibib diam dalam kebimbangan, antara harus memilih wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya atau mati syahid yang selama ini ia rindukan? Pada akhirnya, kerinduan akan mati syahid di medan perang menjadi pilihannya.

Maka, berangkatlah Julaibib ke medan perang, meninggalkan calon istri yang shalihah dan kebahagiaan yang sebentar lagi ia peroleh demi memenuhi panggilan Rabbnya.

Setelah peperangan usai, diketahui bahwa Julaibib telah gugur sebagai syahid. Jasadnya ditemukan di antara para musuh yang telah ia bunuh.

Berangkat dari terminal kerinduan, sosok Julaibib berjalan meninggalkan kebahagiaannya di dunia demi menemukan kebahagiaan yang abadi di sisi Rabbnya.

Bagaimana dengan kita?

Adakah rindu itu dalam diri kita?

Mungkin kita tak sehebat para sahabat, kita belum sampai pada tahap yang berurusan dengan nyawa. Saat ini kita hanya bisa mengorbankan waktu, tenaga, atau harta kita. Tapi dalam perjalanan dakwah, sungguh itu bukan perkara mudah.

Berapa banyak aktivis yang harus muntaber (mundur tanpa berita) tatkala diperhadapkan dengan dua pilihan, antara tugas kantor/kuliah yang menumpuk atau urusan dakwah?

Ke mana rindu itu? Tidak bisakah kita mengatur waktu dengan sebaik mungkin tanpa mengabaikan salah satunya?

Mungkin sulit untuk sebagian orang, tapi inilah dakwah, penuh dengan sesuatu yang menantang.

Secara tidak langsung akan memperlihatkan seberapa besar kecintaan dan kerinduan kita untuk perjuangan ini.

Dari kisah Julaibib radhiallahu ‘anhu itu menyadarkan kita akan pentingnya sebuah rasa dalam perjalanan dakwah fii sabilillah.

Bukan hanya sekedar kekuatan fisik, melainkan juga kekuatan rasa yang berasal dari nurani terdalam.

Jika saja seorang Julaibib tidak memiliki kerinduan yang kuat akan cita-citanya menjadi syuhada, mungkin saja ia tidak akan ikut dalam peperangan dan memilih bahagia dengan wanita idamannya.

Tapi itu tidak mungkin, karena mental miskin seperti itu bukanlah bagian dari karakter orang-orang yang dekat dan dicintai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Semoga dengan kisah Julaibib di atas dapat membangkitkan jiwa yang tertidur dan semangat kita yang kian melemah.

Terus berjalan meski raga menangis, tak akan berhenti sebelum dinyatakan berhenti oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wallahu a’lam bisshowab..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here